Jangan Menyerah Kawan
Aku mengenal Arif sejak semester Pendek, Yaitu pada tahun 2011, seperti kawan-kawan yang lainnya kami kumpul-kumpul bareng dan tempat favorit kumpul bareng dengan kawan-kawan adalah di belakang gardu.
Namun pada suatu hari aku dikabarkan oleh kawanku yang bernama raka dan dia adalah seorang saudara dari Arif.
“ Fizt...Bilangin sama anak-anak si arif sakit, jadi tolong izinin sama dosennya”.
“Iya, Ntar gw absenin”, Jawab Hafizt.
Setelah beberapa hari saya mulai bertanya kepada si raka.
“Rak..Si arif sakit apaan??,koq gak masuk-masuk”, tadinya si raka tidak ingin memberi tahu kepada saya dan kawan-kawan.
“Si arif kena Tumor di kepalanya jadi dia matanya udah agak gak bisa melihat lagi”, Jawab Raka
Setelah diberitahu oleh raka kami berniat untuk menjenguk dan melihat “Apakah benar Arif Kena Tumor”.
Setelah kami kesana, kami semua kaget ternyata yang di beritahukan oleh raka ternyata benar. Walaupun dengan kondisi seperti itu, tidak membuatnya bekecil hati, dan tetap tegar untuk menjalaninya, dan kedua orang tuanya pun tetap tegar untuk merawatnya.
Walaupun dengan kondisi yang sekarang , ia tak pernah sedikitpun dia menyerah walaupun kadang di wajahnya terlihat kesedihan.
***
Kejadian yang aku ingat, sebelum dia terkena tumor, pada saat dia hendak melihat catatan ku
“Dia berkata..Fizt koq tulisan lu keluar-luar garis sihh, pada awalnya aku memang bingung, dan pada saat itu aku juga belum tau kalau dia terkena tumor dan dia juga pada awalnya menganggapnya matanya hanya Minus, jadi saya hanya Cuma tertawa pada saat dia bilang koq tulisannya keluar-keluar.
Jadi pada saat kejadian itu hingga sekarang, terkadang aku selalu teringat akan celoteh-celotehnya dan tawa khasnya dia. Dan Saya hanya bisa berharap semoga engkau cepat sembuh dan dapat berkumpul lagi dengan kawa-kawan.
Jangan Menyerah kawan, PerjalananMu masih sangat-sangat panjang, walaupun engkau terkadang sedih karena belum bisa membahagiakan orang tua tapi pada akhirnya orang tuaMu Akan bangga atas kegigihanMu untuk menjalani hidup.
